Dexa Medica kembali menunjukkan kiprah nyata sebagai perusahaan farmasi nasional yang berperan penting dalam memperkuat kemandirian farmasi Indonesia, khususnya dalam pengembangan obat bahan alam. Hal ini dilakukan melalui kontribusi di forum bergengsi 16th Annual Meeting of the WHO–International Regulatory Cooperation for Herbal Medicines (IRCH) yang berlangsung di JS Luwansa Hotel and Convention Center, Jakarta, pada Selasa 14 Oktober 2025.

Bersama Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) RI, Dexa Medica berkontribusi dalam forum yang dihadiri oleh 58 peserta dari 24 negara anggota WHO–IRCH. WHO–IRCH merupakan jejaring kerja sama internasional di bawah koordinasi World Health Organization (WHO) yang berfokus pada penguatan kapasitas dan harmonisasi kebijakan dalam regulasi obat herbal. Sejak berdiri pada tahun 2017, jaringan ini beranggotakan 49 otoritas regulatori dari 6 kawasan WHO, termasuk 3 lembaga regional/subregional.

Kepala BPOM RI Bapak Taruna Ikrar mengatakan Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa dan berpotensi dikembangkan menjadi obat bahan alam. ”Setidaknya terdapat 30.000 jenis tumbuhan yang berpotensi dikembangkan menjadi obat bahan alam. Dari jumlah tersebut, telah terdaftar 18.000 obat herbal/jamu, 71 di antaranya adalah obat herbal terstandar dan 20 fitofarmaka,” tuturnya. Hal ini menunjukkan masih besarnya peluang pemanfaatan dan pengembangan obat bahan alam.

Bapak Taruna Ikrar juga menyebutkan, selain sumber daya alam, Indonesia memiliki banyak perguruan tinggi dan industri yang dapat berkolaborasi dalam penelitian dan pengembangan obat bahan alam ini. “Konsep akademisi-bisnis-pemerintah ini yang ingin saya usulkan dalam pertemuan IRCH kali ini,” ungkapnya.

Kepala BPOM optimistis, kolaborasi akademisi-bisnis-pemerintah (academic-business-government/ABG) dalam mengembangkan obat bahan alam mampu membuat Indonesia tumbuh menjadi rujukan pasar obat bahan alam di dunia. Selain itu, pemanfaatan dan pengembangan obat bahan alam juga dapat secara bertahap mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku obat yang saat ini masih diimpor.

Sementara itu, IRCH Chair Mr. Sungchol Kim dalam sambutannya, juga menyinggung tujuan utama dari WHO Global Traditional Medicine Strategy 2025–2034, terutama mengenai pembangunan basis bukti yang kuat untuk pengobatan tradisional, komplementer, dan integratif (traditional, complementary, and integrative medicine/TCIM) serta pengembangan peraturan yang tepat untuk keamanan dan efektivitas. Karena itu, Mr. Sungchol Kim mengajak semua peserta untuk berdiskusi aktif, saling bertukar pengetahuan dan pengalaman di bidang obat bahan alam, agar pertemuan membawa manfaat untuk kepentingan masyarakat.

Dari Kekayaan Alam Menuju Kemandirian Farmasi

Dalam sesi interview, Prof. Raymond Tjandrawinata, Director of Business Development and Scientific Affairs PT Dexa Medica, menegaskan pentingnya penguasaan riset bahan baku lokal sebagai fondasi kemandirian farmasi nasional.

“Indonesia memiliki diversitas hayati nomor dua di dunia setelah Brasil, dengan sekitar 20.000 hingga 30.000 spesies tanaman obat. Namun, saat ini baru ada 20 fitofarmaka dan sekitar 70 obat herbal terstandar yang teregistrasi. Melalui riset biomolekuler di DLBS, Dexa Medica berkomitmen mengubah kekayaan alam Indonesia menjadi Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) berstandar global,” ujar Prof. Raymond.

Pernyataan ini sejalan dengan pandangan Kepala BPOM RI, Prof. Taruna Ikrar, yang menyampaikan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi rujukan dunia dalam pengembangan obat bahan alam.

Kemandirian farmasi yang menjadi kontribusi Dexa Medica tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi juga diwujudkan dalam hilirisasi riset menjadi produk nyata. Produk OMAI yang diteliti dan dikembangkan di Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) dan diproduksi di PT Ferron Par Pharmaceuticals serta PT Dexa Medica ini merupakan hasil riset bahan alam Indonesia yang kemudian melahirkan produk-produk bersertifikasi jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka.

Dalam rangkaian acara Indonesia Herbal Mini Expo 2025 yang menjadi bagian dari forum WHO–IRCH, Dexa Medica turut menampilkan berbagai hasil riset dan produk OMAI melalui booth pameran yang mengusung konsep Green Pharmacy. Booth ini menjadi sorotan para peserta internasional dan mendapat kunjungan langsung dari Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar serta IRCH Chair Mr. Sungchol Kim.

Kehadiran Dexa Medica dalam forum WHO–IRCH ke-16 ini menjadi bukti nyata bahwa perusahaan merupakan mitra strategis pemerintah dalam membangun kemandirian farmasi nasional yang berdaya saing global. Melalui semangat Expertise for the Promotion of Health, Dexa Medica terus mengubah kekayaan alam Indonesia menjadi solusi kesehatan yang berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia dan dunia.