Potensi kekayaan alam Indonesia, sebagai negara dengan biodiversias terbesar kedua yang memiliki lebih dari 28 ribu spesies tumbuhan dan 2.848 tanaman obat berpotensi besar untuk pengembangan obat bahan alam (OBA) dan Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) fitofarmaka. Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Utama BPOM Ibu Dra. Reri Indriani menekankan pentingnya dukungan regulasi dan pengawasan dalam pengembangan OBA di Indonesia.

“Meskipun Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, nilai tambah yang dihasilkan masih rendah, dengan 80% bahan alam masih diimpor,” ujar Ibu Reri dalam Webinar Jamu: Dulu, Kini, dan Nanti” di Jakarta, Rabu, 29 Mei 2024.

Turut hadir dalam acara ini Director of Business Development and Scientific Affairs Dexa Group Prof. Raymond Tjandrawinata, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu, Bapak Joni Yuwono, dan Presiden Komisaris Jamu Jago Bapak Jaya Suprana.

Ibu Reri menjelaskan jamu sebagai obat bahan alam Indonesia telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO. Meski begitu, pengembangan jamu masih belum mencapai ekspektasi sehingga dibutuhkan standarisasi dan modernisasi.

“Modernisasi manufaktur OBA sangat diperlukan, terutama dengan peningkatan jumlah pelaku usaha yang menerapkan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik dan meningkatnya izin edar jamu selama pandemi hingga 40%,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan Prof. Raymond Tjandrawinata yang menekankan pentingnya standarisasi dan modernisasi untuk obat bahan alam, salah satunya melalui Obat Modern Asli Indonesia. untuk memastikan kualitas dan keberlanjutan produk, serta kunci untuk bersaing di pasar global.

“Jamu dari luar negeri seperti TCM dan Ayurveda sudah menggunakan teknik modern. Standarisasi untuk jamu, OHT (Obat Herbal Terstandar), dan fitofarmaka harus terus ditingkatkan. Untuk menjadi kuratif, jamu harus mengikuti standar internasional dengan uji klinik, pra-klinik, dan toksikologi,” jelasnya.

Dexa Group melalui produk Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) telah berhasil menunjukkan bahwa jamu yang terstandarisasi dan diuji secara ilmiah dapat diterima di pasar internasional. “OMAI sudah digunakan oleh dokter di beberapa negara di ASEAN. Ini adalah bukti bahwa jamu Indonesia memiliki potensi besar untuk go international,” tambah Prof. Raymond.

Presiden Komisaris Jamu Jago, Bapak Jaya Suprana, menggarisbawahi pentingnya strategi pemasaran jamu Indonesia agar dapat bersaing dengan TCM dan Ayurveda. “Indonesia harus bangga dengan produk nasional kita. Jamu harus go international dan sistem pelayanan kesehatan Indonesia tidak boleh kalah dengan Tiongkok dan India. Kisah jamu gendong yang berhasil diakui UNESCO adalah contoh bahwa kita bisa,” tegasnya.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu, Bapak Joni Yuwono, menambahkan, “Industri jamu di Indonesia didominasi oleh UMKM dengan porsi 87,2%, namun ekspor jamu baru mencapai 5% dari total ekspor rempah, atau senilai USD41,5 juta di 2021. Kita memiliki 75% spesies tanaman obat dunia, mari bersama-sama menjamu dunia,” pungkasnya.